Daftar Blog Saya

Jumat, 10 Mei 2013

Puisi Bungalan Banyu

BERGURU PADA REMBULAN
DAN MATAHARI

I

Dan aku melayang bagaikan kupu-kupu di paruh waktu
Berselimut jaring laba-laba
Setia melayang mengitari rembulan dan matahari
Pusat segala misteri sejak lahir hingga kelak aku mati

Aku risau dengan kebebasan, guru
Ketika lahir ingin bebas bicara, tanpa pembatasan
Bebas keluarkan uneg-uneg, tak peduli reaksi orang
Ternyata yang kukira kebebasan, justru dianggap cemooh oleh yang lain

Ketika dewasa ingin bebas berimajinasi, menggambar apa pun
Berasumsi tentang nasib orang lain
Tetapi aku marah ketika yang lain membedah imajinasiku,
kuanggap merampas hak dan kemerdekaanku
Kulanggar keyakinan sendiri atas nama kebebasan
Aku malu pada rumput, embun, angin dan hujan, saksi
perjalanan hidup yang kutoreh dalam catatan harian

Aku ingin bebas, tanpa melanggar kebebasan yang lain
Ukuran dan nomor bajuku tak selalu cocok buat mereka
Dan aku tak bisa terima penolakan itu, karena berasumsi paling benar
Guru, aku ingin tahu batas, ketika ternyata aku tak bebas lagi....

II

Tak ada guru sejati bagimu, sebelum kau kalahkan amuk di jiwa
Dan aku bukan guru, apalagi orang pintar yang mengerti segala hal
Semua yang kau ketahui sudah digenggam,
tetapi tak pernah kau mengerti apalagi dipahami
Kau hanya perlu kebebasan membaca tanda-tanda alam
Kearifan alam raya tersembunyi jauh di bawah yang kau lihat,
kau rasa, kau raba, kau dengar....

Matamu belum terbiasa melihat yang tak pernah kau lihat
Telingamu hanya mau mendengar yang ingin didengar
Hatimu cuma ingin merasakan yang disukai
Pikiranmu hanya menjangkau sejauh seberapa panjang hidungmu
Kau ingin bebas, ketika seharusnya membatasi
Kau tolak perbedaan, ketika persamaan sulit diterima
Kau dambakan nilai-nilai privasi, tetapi kau gemar menggunjing orang lain

Aku ingin menyepi dari keriuhanmu
Aku ingin belajar banyak arti kemerdekaan berpikir,
pembatasan hak dan kewajiban
Ketika aku berpikir tentang kemerdekaan dan pembatasan,
aku tak pernah merasa merdeka, bahkan terbelenggu
Aku malu pada keterbatasan untuk menjadi sempurna

Dan aku melayang bagaikan kupu-kupu di paruh waktu
Berselimut jaring laba-laba
Setia melayang mengitari rembulan dan matahari
Pusat segala misteri sejak lahir hingga kelak aku mati

Berguru pada tanya, 11 Mei 2013

2 komentar:

Camilla Louva mengatakan...

terpaku dalam diam. bagai keangkuhan matahari, sendiri. yang dilakukan hanya memberi, memberi dan memberi. tanpa peduli pada reaksi yang diberi. I'm so sorry, mas Bungalan Banyu...

Camilla Louva mengatakan...

Bagai matahari sang dewa bestari, sendiri menantang sunyi. yang dilakukan hanya memberi dan menginspirasi. tanpa peduli bagaimana reaksi yang diberi. karena mungkin, kitalah yang hendaknya menyelaraskan diri pada matahari.
I'm so sorry, mas Bungalan Banyu...